Friday, June 5, 2009

Bunga Sang Kaisar

Bunga Sang Kaisar

Pada suatu waktu di Cina hiduplah seorang pria muda bernama Chang. Ia cerdas
dan tulus. Lebih dari segalanya, ia mencintai bunga. Tidak ada yang lebih
menyenangkannya daripada melihat bunga lilac, lili, dan peony ketika mereka
mekar di musim semi. Di musim dingin ia menanti-nantikan munculnya bunga
narcissus yang indah. Ia tidak bisa memilih sebuah bunga favorit, karena ia
menyukai bunga morning glory dan evening glory, bunga delima, bunga peach,
dan bunga teratai yang mengapung di kolam. Ia menikmati bunga mawar yang
wangi, seruni yang kokoh, dan dahlia yang menakjubkan.

Chang mengagumi kaisar karena ia pernah mendengar bahwa kaisar juga
mencintai bunga dan mengawasi kebun indah di taman istana.

Sekarang kaisar sudah berusia lanjut. Ia tidak mempunyai putera, sehingga ia
tidak mempunyai calon penggantinya. Selama bertahun-tahun ia memikirkan cara
memilih seorang pria yang bisa ia angkat sebagai kaisar berikutnya.
Kemudian, pada suatu hari di awal musim semi ketika ia berjalan-jalan di
tamannya, ia mendapat gagasan yang sangat bagus.

Hari berikutnya, kaisar mengumumkan kepada semua pria muda di negeri itu
bahwa di akhir minggu ia akan memberikan biji-biji kepada siapapun yang
ingin menanam bunga. Kaisar mengatakan, “Siapapun yang menumbuhkan bunga
terindah yang dibawa ke hadapanku akan menjadi penggantiku.”

Ketika Chan mendengar berita itu, ia mengisi sebuah pot biru terang dengan
lumut dan kompos, tanah subur dan pasir. Puas bahwa tanahnya subur dan
lembab, ia membawanya ke istana. Di sana ia berdiri di dalam antrian bersama
ratusan orang lain. Setiap pria muda memegang sebuah pot: ada yang besar,
ada yang kecil, ada yang bulat, ada yang tinggi, ada yang ramping. Setiap
orang menerima seuah biji dari tangan kaisar sendiri.

Chang menekan biji itu ke dalam tanah di pot dan dengan berhati-hati
menutupnya dengan kain tipis untuk menjaganya agar tetap hangat. Kemudian ia
bergegas pulang.

Di rumah, Chang memelihara biji dari kaisar itu dengan pengabdian yang sama
seperti yang ia berikan ke semua tanamannya. Ia berhati-hati untuk tidak
memberi terlalu banyak atau terlalu sedikit air. Pada saat yang tepat ia
memberi pupuk, dan sangat berhati-hati dalam melindunginya dari serangga,
debu dan jamur, seperti semua tanaman lainnya.

Berbulan-bulan berlalu, tanaman lainnya telah menembus tanah dan mulai
tumbuh, tetapi Chang kecewa karena tida ada tunas yang tumbuh di pot
birunya. “Ini aneh,” katanya. “Mungkin biji ini tidak membutuhkan banyak
matahari.” Jadi, ia memindahkan pot ke ruangan lain, tetapi juga tidak
terjadi apapun. “Mungkin ruangan ini terlalu dingin,” katanya, dan ia
memindahkan pot birunya ke ruangan yang lebih hangat. Masih juga tak terjadi
apapun.

Sekarang waktu untuk menghadap kaisar sudah mendekat, dan pot biru Chang
masih kosong. Setiap kali memandanginya, ia dipenuhi rasa putus asa. “Apa
yang salah?” pikirnya. Ia mengunjungi setiap ahli perkebunan yang ia kenal,
dan kepada setiap orang menceritakan kisah bijinya. Mereka semua
menggelengkan kepala. Tak ada yang tahu dimana letak kesalahannya.

Beberapa orang mengatakan bahwa jelas ia tidak dimaksudkan untuk menjadi
kaisar. Beberapa orang lainnya mengatakan ia harus menambah tanah, atau
menambah air, atau mengurangi pupuk. Beberapa orang lain mengatakan untuk
melupakan keinginannya menjadi kaisar.

Tetapi orang tua Chang mendengarkan kekuatiran anaknya dan hanya tersenyum.
“Jangan kuatir, nak. Kamu sudah melakukan hal yang terbaik,” kata orang tua
yang bijaksana itu. “Hanya itu yang dapat kau lakukan.”

“Tetapi aku telah gagal,” keluh Chang ketika memandangi tanah kosong di
potnya. “Sudah waktunya untuk menemui kaisar, dan aku sudah
mengecewakannya.”

“Katakan saja apa yang telah terjadi,” kata ayahnya. “Kewajibanmu hanyalah
mengatakan kebenaran.”

Pada hari yang telah ditentukan beberapa waktu kemudian, dengan hati putus
asa karena kecewa, Chan berjalan ke istana. Ketika tiba, airmatanya
mengalir, karena di depannya, lautan pria muda berdiri, masing-masing
memegang bunga yang lebih indah dari pada orang di depannya. Bunga-bunga
anggrek yang anggun, bunga lili yang halus, bunga peony yang berwarna-warni.
Pemiliknya memeganginya dengan bangga. “Lihat punyaku!” teriak mereka sambil
memegangi tanamannya tinggi-tinggi ketika kaisar berjalan melewati
kerumunan. Ia mengangguk senang sambil berlalu, memperhatikan bunga bell,
bunga forget-me-not, bunga foxglove, bunga dari setiap warna pelangi.

Chang belum pernah melihat pemandangan yang begitu indah, dan kesedihannya
menguap untuk sementara waktu ketika ia menghirup aroma bunga-bungaan dan
mengagumi ukuran dan bentuk bervariasi dari bunga-bunga itu.

Akhirnya kaisar sampai juga di hadapan Chang. Chang membungkukkan kepalanya.
“Dimana bungamu, pria muda?” tanya kaisar.

Chang melihat cahaya di mata kaisar yang membuatnya terkejut. “Baginda,
hamba telah mengecewakan baginda,” katanya dengan sedih. “Hamba telah
merawat biji yang baginda berikan, tetapi seperti baginda lihat, hamba tak
mampu menumbuhkan bunga untuk baginda. Hamba berharap baginda memaafkan
hamba.”

Tetapi wajah kaisar bersinar dengan senyum yang lebih cerah dari pada semua
bunga yang ada di sekelilingnya. “Kamulah penggantiku,” kata kaisar
menggenggam tangan Chang.

“Tetapi, baginda, hamba adalah satu-satunya orang yang gagal,”

Kaisar menggelengkan kepalanya. “Sebaliknya,” jelasnya, “kamu tahu, aku
telah merebus biji-biji ini sebelum aku membagikannya. Tidak satupun dari
biji-biji itu yang akan tumbuh, tetapi semua orang muda lain begitu
menginginkan kedudukanku sehingga mereka hanya ingin menyenangkan aku dengan
keindahan bunga mereka dan dengan demikian mereka berharap mendapatkan
tahtaku. Mereka tidak peduli pada kejujuran, pada kebenaran. Hanya kamu yang
telah membuktikan bahwa kamu adalah pemimpin yang layak.”

Dan begitulah, pria muda dengan pot kosong itu menjadi pengganti kaisar
Cina.

Tuhan bergaul karib dengan orang jujur. . . .

Sumber: Media Kawasan, edisi April 2009. Pertama kali diposting di Pentas
Kesaksian pada tanggal 7 April 2009 oleh Hadi Kristadi di
http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan
dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di web/blog anda.
Terima kasih banyak. God bless those who are honest...

No comments: